Abu Zahra Raiqa Al-Atsari

06/13/2009

AHLI BID’AH MENGAKU-NGAKU AHLI SUNNAH 1

Filed under: Manhaj — abuzahraraiqa @ 8:08 am

انتساب الفراق المبتدعة للسلفية دعوى خالية من الدليل
AHLI BID’AH MENGAKU-NGAKU AHLI SUNNAH1

Oleh:

Syaikh Abu ‘Abdis Salam Hasan bin Qosim al-Husaini

Sesungguhnya banyak kelompok-kelompok bid’ah mengaku-ngaku berada di atas manhaj salaf sholih, namun pengakuan mereka ini tidak dapat diterima (begitu saja) karena pengakuan mereka ini hanyalah klaim belaka yang tidak disokong bukti (dalil). Sekiranya pengakuan belaka bermanfaat dengan sendirinya, maka niscaya (pengakuan) Yahudi dan Nasrani juga bermanfaat tatkala mereka mengklaim bahwa surga itu hanya khusus bagi mereka saja, sebagaimana yang difirmankan Alloh tentangnya :

وَقَالُوا لَنْ يَدْخُلَ الْجَنَّةَ إِلَّا مَنْ كَانَ هُودًا أَوْ نَصَارَى تِلْكَ أَمَانِيُّهُمْ قُلْ هَاتُوا بُرْهَانَكُمْ إِنْ كُنْتُمْ صَادِقِينَ

Dan mereka (Yahudi dan Nasrani) berkata: “Sekali-kali tidak akan masuk surga kecuali orang-orang (yang beragama) Yahudi atau Nasrani”. demikian itu (hanya) angan-angan mereka yang kosong belaka. Katakanlah: “Tunjukkanlah bukti kebenaranmu jika kamu adalah orang yang benar”. (QS al-Baqoroh : 111)

Seandainya pengaku-ngakuan belaka membuahkan manfaat dengan sendirinya, niscaya Fir’aun adalah orang yang benar dengan apa yang didakwakannya, dimana Alloh menfirmankan tentangnya :

قَالَ فِرْعَوْنُ مَا أُرِيكُمْ إِلَّا مَا أَرَى وَمَا أَهْدِيكُمْ إِلَّا سَبِيلَ الرَّشَادِ

Fir’aun berkata: “Aku tidak mengemukakan kepadamu, melainkan apa yang Aku pandang baik; dan Aku tiada menunjukkan kepadamu selain jalan yang benar”. (QS Ghaafir : 29)

Sesungguhnya pengaku-ngakuan (klaim/dakwaan) belaka tidaklah diterima begitu saja kecuali dengan disertai keterangan dan burhan. Imam Bukhari dan Muslim telah mengeluarkan di dalam Shahih mereka dari hadits Ibnu ’Abbas Radhiyallahu ’anhuma bahwasanya Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :

لو يعطى الناس بدعواهم لادع ناس دماء رجال وأموالهم ولكن اليمين على المدعى عليه

”Seandainya manusia diberi hanya cukup dengan dakwaannya saja, niscaya manusia akan mendakwakan darah dan harta seseorang. Hanya saja orang yang didakwa cukup dengan bersumpah.” (lafazh riwayat Muslim)2

Dikeluarkan pula oleh Imam at-Turmudzi di dalam Sunan-nya dari hadits ’Amru bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya, bahwasanya Nabi Shallallahu ’alaihi wa Salam bersabda :

البينة على المدعي واليمين على المدعى عليه

”(Harus ada) bukti bagi yang mendakwa dan sumpah bagi yang didakwa.”3

Imam Nawawi rahimahullahu berkata : “Hadits ini* merupakan kaidah yang besar diantara kaidah-kaidah hukum syar’i. Di dalam kaidah ini (terdapat hukum) tidak diterimanya ucapan seseorang tentang apa yang didakwakannya sebatas hanya dakwaan belaka, namun diperlukan bukti dan pembenaran dari orang yang didakwa.”4

Alangkah tepatnya apa yang dikatakan oleh seorang penyair

والدعاوى مالم تقيموا عليها *** بيــــــنات أبنائها أدعياء

”Pengaku-ngaku yang tidak menyokong pengakuannya

Dengan bukti-bukti maka ia hanyalah pengaku-ngaku belaka.”

وكل يدعي وصـــلا لليلى *** وليلى لاتقـــر لهم بـذاك

Semua mengaku-ngaku punya hubungan dengan Laila
Namun Laila memungkiri pengaku-ngakuan mereka itu
.”

Diantara bentuk klaim dakwaan belaka yang menyebar dari timur hingga ke barat adalah apa yang diucapkan oleh Hasan al-Banna, seorang pendiri partai al-Ikhwan al-Muslimun. Ia berkata : ”Wahai kaum kami, sesungguhnya kami menyeru anda sekalian, dan al-Qur’an ada di tangan kanan kami dan as-Sunnah di tangan kiri kami serta amalan salaf yang shalih dari putera-puteri umat ini adalah taudalan kami.”3

Aku (Syaikh Hasan al-Husaini) berkata : Sesungguhnya klaim yang kosong dari bukti yang nyata ini, dibatalkan dari pokoknya oleh landasan yang dibangun di atasnya partai al-Ikhwanul Muslimun mulai dari pendirinya sampai anggota terkecilnya. Aku sekarang tidak akan menjelaskannya secara terperinci (masalah ini) karena telah cukup bagi kita sejumlah tulisan yang ada di zaman kita ini (yang berbicara tentang al-Ikhwanul Muslimun), diantaranya adalah :

Ath-Thorîq ilâ al-Jamâ’ah al-Umm6

Waqofât ma’a Kitâbi lid Du’ât Faqoth7

Adhwâ` Islâmiyyah ’alâ Aqîdati Sayyid Quthb wa Fikruhu8

Mathô’in Sayyid Quthb fî Aśħâbi Rosŭlillah Shallallâhu ’alaihi wa Sallam9

Al-’Awâśim fîmâ fî Kutubi Sayyid Quthb minal Qowâśim10

Al-Mauridu az-Zilâl fî Akhthô`i aż-Żilâl11

Da’watu al-Ikhwân al-Muslimîn fî Mîzânil Islâm

Haqîqotu ad-Da’wah ilâllôhi Ta’âla

Al-Quţbiyyah hiyal Fitnah fa’rifŭhâ12

Dan lain lain

Kendati demikian, aku cukupkan pembatalan klaim ini dengan apa yang dinyatakan oleh Hasan al-Banna sendiri, dimana ia berkata : Kita saling bekerja sama di dalam perkara yang kita sepakati dan memberikan toleransi satu dengan lainnya di dalam perkara yang kita perselisihkan.13

Syaikh Ibnu Baz rahimahullahu berkata : ”Adapun memberikan toleransi satu dengan lainnya di dalam perkara yang kita perselisihkan tidaklah mutlak demikian…. apabila di dalam perkara ijtihad yang dalilnya masih samar-samar, maka wajib tidak ada pengingkaran di dalamnya… adapun bila menyelisihi nash dari Kitabullah dan Sunnah Rasulullah maka wajib mengingkari siapa saja yang menyelisihi nash.”14

Syaikh Shalih Fauzan hafizhahullahu berkata di sela-sela bantahan beliau terhadap salah seorang kalangan mereka (IM) : ”… Dan dakwah ini memungkinkan untuk mengajak seorang penyeleweng walaupun sangat besar tingkat penyelewengannya (ke dalam barisan IM, pent.)… akan tetapi tidak ada suatu kelanggengan di atas (berhimpunnya) madzhab-madzhab bathil…”13

Syaikh Bakr Abu Zaid berkata : ”Ini merupakan penetapan kaidah yang muhdats (baru) lagi rusak karena tidak ada toleransi bagi orang yang menyelisihi hukum-hukum qoth’i (pasti) di dalam Islam, bahkan sesungguhnya hal ini merupakan kesepakatan kaum muslimin, (yaitu) tidak ada toleransi maupun peremehan terhadap keyakinan yang telah diterima (oleh kaum muslimin).”16

Syaikh kami, ’Ali bin Muhammad al-Faqihi berkata : ”Dan kaidah yang mutlak ini tanpa (adanya) pembatasan adalah rusak dan batil, karena dengan kesepakatan kaum muslimin, tidak boleh ada toleransi maupun peremehan terhadap masalah keyakinan (aqidah) yang telah diterima, tidak pula para imam agama Islam berselisih di dalam masalah ushul (pokok), sebab termasuk diantara keburukan kaidah ini adalah kita dapatkan orang-orang yang berpendapat dengan kaidah ini, terhimpun di bawah slogan mereka ini : orang-orang yang mengkafirkan para sahabat Rasulullah Shallallalhu ’alaihi wa Salam terutama tiga al-Khulafa`ur Rasyidun yang telah dipersaksikan dengan surga17 dan mereka mendakwakan adanya perubahan al-Qur’an sebagaimana di dalam buku-buku mereka terdahulu maupun kontemporer18. Kemudian, masuk pula ke dalam slogan mereka ini semua anggota Ba’tsi (pengikut partai Ba’ats) yang mulhid (atheis/komunis) yang mendendangkan taqiyah (kedustaan) dan nifaq (kemunafikan) sebagai syiar agama Islam. Sebagaimana pula terhimpun di dalam slogan ini kaum sufi yang pemikiran dan cara beragamanya terhubung dengan keyakinan Wahdatul Wujud (Inkarnasi/Manunggaling Kawula Gusti) dan mengklaim bahwa mereka mengambil cara-cara beragamanya dari Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam secara langsung. Dan orang yang menyetujui di dalam buku-bukunya dari kalangan simpatisan jama’ah ini pencetus slogan ini, (ia berpendapat) bahwasanya tidak mengapa seorang muslim menggantungkan keperluannya kepada orang-orang suci yang telah meninggal dan bersamaan dengan itu ia menuntut penerapan syariat Islam. Kami tidak tahu hukum syariat Islam apakah (yang hendak ditegakkan) di dalam dakwah yang secara terang-terangan (menyeru) kepada kesyirikan terhadap Alloh, padahal tidak ada yang mampu memenuhi segala kebutuhan makhluk melainkan pencipta mereka Subhanahu wa Ta’ala :

مْ مَنْ يُجِيبُ الْمُضْطَرَّ إِذَا دَعَاهُ وَيَكْشِفُ السُّوءَ وَيَجْعَلُكُمْ خُلَفَاءَ الْأَرْضِ أَئِلَهٌ مَعَ اللَّهِ قَلِيلًا مَا تَذَكَّرُونَ

”Atau siapakah yang memperkenankan (doa) orang yang dalam kesulitan apabila ia berdoa kepada-Nya, dan yang menghilangkan kesusahan dan yang menjadikan kamu (manusia) sebagai khalifah di bumi]? apakah disamping Allah ada Tuhan (yang lain)? amat sedikitlah kamu mengingati(Nya).”19

Aku berkata : menjadi jelaslah bahwa kaidah ini membatalkan apa yang didakwakan olehnya yaitu klaimnya bahwa amal salaf sholih dari umat ini adalah tauladannya dan tauladan jama’ahnya.

Termasuk yang membatalkan klaim ini juga adalah apa yang ia katakan dalam sebuah konferensi yang dihadiri bersama oleh dewan persekutuan Amerika Inggris. Dia berkata : ”Aspek yang akan saya bicarakan ini merupakan poin yang luas dari segi agama, karena poin ini acapkali tidak begitu difahami oleh dunia barat. Oleh karena itulah dengan senang hati aku akan menjelaskannya secara ringkas. Maka aku tetapkan, bahwa permusuhan kita dengan Yahudi bukanlah permusuhan karena faktor agama, karena al-Qur’an al-Karim menganjurkan kita untuk berteman dan bersahabat dengan mereka. Islam merupakan syariat insaniyah (humanisme) sebelum menjadi sebuah syariat qoumiyah (spesifik terhadap umat tertentu), Islam pun memuji mereka dan menjadikan antara kita dengan mereka suatu persesuaian

وَلَا تُجَادِلُوا أَهْلَ الْكِتَابِ إِلَّا بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ

”Dan janganlah kamu berdebat dengan Ahli kitab, melainkan dengan cara yang paling baik.” (QS al-Ankabut : 46)

Dan tatkala ingin mengambil masalah Yahudi (sebagai permusuhan) maka dikembalikan kepada aspek ekonomi dan perundang-undangan, Alloh Ta’ala berfirman :

”Maka disebabkan kezhaliman orang-orang Yahudi, kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) dihalalkan bagi mereka.” (QS an-Nisaa` : 10)20

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata : ”Bahkan Yahudi dan Nasrani mengetahui bahwa Muhammad Shallallahu ’alaihi wa Salam diutus dengannya (risalah) dan mengkafirkan siapa saja yang menyelisihi (risalah)-nya seperti perintah beliau untuk beribadah hanya kepada Alloh semata yang tiada sekutu bagi-Nya dan larangan beliau dari beribadah kepada sesuatupun selain Alloh… dan seperti bentuk permusuhan beliau kepada Yahudi, Nasrani, kaum musyrikin, Shabi’in (paganis) dan Majusi (zoroaster)…”21

Aku berkata : Perhatikanlah wahai pembaca budiman, ucapan Syaikhul Islam rahimahullahu yang menjelaskan bahwa Yahudi sendiri mengetahui dengan baik bahwa Muhammad Shallallahu ’alaihi wa Salam diutus dengan permusuhan kepada mereka. Lantas bagaimana dengan orang yang mengafiliasikan dirinya kepada salafiyyah secara bohong dan dusta sedangkan ia mengatakan Maka aku tetapkan, bahwa permusuhan kita dengan Yahudi bukanlah permusuhan karena faktor agama!

Alloh Ta’ala berfirman :

مَا يَكُونُ لَنَا أَنْ نَتَكَلَّمَ بِهَذَا سُبْحَانَكَ هَذَا بُهْتَانٌ عَظِيمٌ

”Sekali-kali tidaklah pantas bagi kita memperkatakan ini, Maha Suci Engkau (Ya Tuhan kami), Ini adalah dusta yang besar.” (QS an-Nur : 16)

Syaikh ’Abdul ’Aziz bin Baz berkata ketika disodorkan pernyataan ini : ”Ini adalah perkataan yang batil dan buruk. Yahudi adalah manusia yang paling memusuhi kaum mukminin, mereka adalah seburuk-buruk manusia, bahkan mereka adalah kaum yang paling keras permusuhannya kepada kaum mukminin diantara kaum kuffar lainnya, sebagaimana firman Alloh Ta’ala :

لَتَجِدَنَّ أَشَدَّ النَّاسِ عَدَاوَةً لِلَّذِينَ آَمَنُوا الْيَهُودَ وَالَّذِينَ أَشْرَكُوا

”Sesungguhnya kamu dapati orang-orang yang paling keras permusuhannya terhadap orang-orang yang beriman ialah orang-orang Yahudi dan orang-orang musyrik. ” (QS al-Maidah : 82).

Orang-orang Yahudi dan Watsaniyun (paganis/penyembah berhala), mereka adalah manusia yang paling keras permusuhannya kepada kaum mukminin. Ucapan ini adalah pernyataan yang salah, zhalim, buruk dan mungkar. Wajib bagi orang yang mengucapkannya bertaubat kepada Alloh dan kembali kepada-Nya Subhanahu wa Ta’ala dan menyesali atas ucapannya yang jelek ini.”22

Aku berkata : Dan termasuk juga yang membatalkan klaimnya adalah aqidahnya yang tafwidh23 dan (mendakwakannya bahwa) ”mentafwidh (menyerahkan) pengetahuan makna sifat termasuk pemahaman salaf”. Ia berkata : ”Kami berkeyakinan bahwa pemahaman salaf adalah mendiamkan atau mentafwidh pengetahuan makna-makna (shifat) ini kepada Alloh Tabaroka wa Ta’ala lebih selamat dan lebih utama untuk diikuti.”24

Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahullahu berkata : ”Telah terang bahwa ucapan para penganut faham tafwidh yang mengira bahwa mereka mengikuti sunnah dan salaf adalah termasuk seburuk-buruk ucapan ahli bid’ah dan ilhad (penyeleweng).”23

Syaikh Muhammad Khalil Hirras rahimahullahu berkata : ”Termasuk pendapat yang salah yaitu menganggap bahwa pendapat ini (tafwidh) merupakan madzhab salaf sebagaimana orang-orang kontemporer menyandarkannya, baik dari kalangan Asy’ariyah maupun selainnya. Karena Salaf tidak pernah mentafwidh pengetahuan akan makna (shifat) dan mereka tidak pernah membaca suatu kalimat yang mereka tidak memahami maknanya. Namun, mereka memahami makna-makna nash dari al-Kitab dan as-Sunnah dan mereka menetapkannya bagi Alloh Azza wa Jalla, lalu mereka menyerahkan hakikat atau kaifiatnya, sebagaimana dikatakan oleh Malik ketika ditanya tentang kaifiat istiwa’ (bersemayamnya) Alloh Ta’ala di atas Arsy : ”Istiwa` itu telah maklum (difahami maknanya) sedangkan kaifiatnya majhul (tidak diketahui).”26

Syaikh ’Abdul ’Aziz bin Baz rahimahullahu berkata : ”Bukan perkara yang lebih selamat mentafwidh perkara di dalam masalah Shifat menjadi perkara ghaib, dikarenakan Alloh Subhanahu menjelaskannya kepada hamba-hamba-Nya dan Ia terangkan di dalam Kitab-Nya Yang Mulia dan dari lisan Rasul-Nya al-Amin Shalallahu ’alahi wa Salam, namun Ia tidak menerangkan akan kaifiatnya. Maka wajib mentafwidh pengetahuan akan kaifiatnya bukan pengetahuan akan maknanya, dan tafwidh ini sendiri bukanlah bagian dari madzhab salaf namun ia adalah madzhabnya mubtadi’ yang menyelisihi apa yang difahami oleh Salaf Shalih.”27

Syaikh Muhammad bin Shalih al-’Utsaimin berkata : ”Dengan demikian kita mengetahui kesesatan atau kedustaan orang yang mengatakan bahwa sesungguhnya thoriqoh salaf itu adalah tafwidh. Mereka telah sesat apabila mengatakan demikian dikarenakan kejahilan akan thoriqoh salaf, namun telah berdusta apabila mereka mengatakannya dengan sengaja… ’Ala kulli haal, tidak diragukan lagi bahwa siapa saja yang mengatakan bahwa sesungguhnya madzhab ahlus sunnah adalah tafwidh, maka mereka telah salah karena madzhab ahlus sunnah itu menetapkan makna namun mentafwidh kaifiat.”28

Beliau juga berkata ketika mengomentari perkataan Ibnu Taimiyah terdahulu : ”Telah benar beliau rahimahullahu, apabila anda perhatikan maka anda dapatkan (pada mereka yang berfaham tafwidh) pendustaan terhadap al-Qur’an, menuduh Rasulullah Shallallahu ’alaihi wa Salam bodoh dan bertele-tele dengan ilmu filsafat.”29

Aku berkata : Al-Banna banyak sekali membuat kebid’ahan yang membatalkan akan dakwaannya bahwa amal salaf merupakan tauladannya. Bagi yang ingin menelaah lebih jauh tentang ucapan-ucapan bid’ahnya, maka silakan merujuk kepada buku-buku yang menjelaskan akan keboborokan al-Ikhwanul Muslimun diantaranya yang telah berlalu penyebutannya. Wallohu ’alam.

Termasuk dakwaan belaka yang kosong dari dalil dan burhan (keterangan yang nyata) adalah apa yang didakwakan oleh ’Abdul Majid ar-Raimi30 yang mengeluarkan sebuah kaset yang berjudul ”Ar-Ruju’ ila Fahmis Salaf” (Kembali kepada pemahaman salaf), mungkin lebih tepat apabila diberi judul dengan ”Ar-Ruju’ ila Fahmil Kholaf”. Kaset ini dipenuhi oleh pujian terhadap Jama’ah Jihad31 dan celaan terhadap sebagian ulama sunnah as-Salafiyyun serta keburukan-keburukan lainnya yang menyelisihi kebenaran manhaj Salaf Shalih. Kami katakan kepada ’Abdul Majid ar-Raimi : Apakah termasuk kembali kepada pemahaman salaf shalih adalah memuji ahli bid’ah dan mengagungkan mereka, padahal ulama salaf telah menjelaskan pada kita bagaimana cara berinteraksi dengan ahli bid’ah?

Diantaranya adalah apa yang dikatakan oleh Abu ’Utsman ash-Shobuni rahimahullahu : ”Mereka (salaf ashhabul hadits) bersepakat untuk merendahkan ahli bid’ah, menghinakan mereka, mencela mereka, menjauhkan mereka, menyingkirkan mereka, menjauhi mereka dengan tidak bersahabat dan berteman dengan mereka serta bertaqorrub (mendekatkan diri) kepada Alloh Azza wa Jalla dengan cara meninggalkan dan memboikot mereka.”32

Apakah termasuk manhaj salaf mencela ulama sunnah as-Salafiyyin sebagaimana yang kau katakan di dalam kasetmu al-Qodhiyah al-Filisthiniyah : ”Mereka ini adalah penjilat penguasa, semoga Alloh menghinakan mereka yang senantiasa memberikan kepada penguasa fatwa-fatwa yang mereka kehendaki.”

Abu Hatim ar-Razi rahimahullahu berkata : ”Ciri-ciri ahli bid’ah adalah celaan mereka kepada ahli atsar.”33

Apakah termasuk manhaj salaf mengkafirkan penguasa kaum muslimin dan memberontak darinya walaupun mereka berbuat aniaya atauppun fasiq sebagaimana yang engkau dengangdengungkan di dalam kasetmu Hatta Laa Taghriiqus Safiinah wa Fiqhul Waaqi’.

Imam ath-Thohawi rahimahullahu berkata : ”Kami tidak memandang (bolehnya) keluar dari para pemimpin dan penguasa kami walaupun mereka berbuat jahat. Kami tidak mendoakan keburukan atas mereka dan tidak melepaskan baiat untuk mentaati mereka dan kami memandang bahwa mentaati mereka dari ketaatan Alloh Azza wa Jalla adalah wajib selama mereka tidak memerintahkan untuk bermaksiat dan kami doakan bagi mereka kebaikan dan ampunan.”34

Apakah termasuk manhaj salaf apa yang kau katakan di dalam kasetmu Mafaasid ad-Dimuqrathiyah –bagian 2- dimana (kau mengatakan) bahwa pemilu merupakan masalah ijtihadiyah sebagaimana membaca al-Fatihah di belakang imam? Apakah –demi Alloh- merubah hukum Alloh dengan hukum manusia termasuk masalah ijtihadiyah? Apakah penyetaraan orang yang alim dengan jahil, seorang laki-laki dengan wanita, orang yang bertakwa dengan orang fasik di dalam urusan agama termasuk masalah ijtihadiyah? Padahal telah diketahui bersama bahwa suara dari tiap-tiap orang dianggap sebagai persaksian yang sama pada orang yang ikut pemilu. Apakah kebebasan pendapat dan pendapat lainnya termasuk masalah ijtihadiyah? Apakah menfoto wanita termasuk masalah ijtihadiyah?

Sungguh besar ucapan yang keluar darimu dan yang kau katakan hanyalah kedustaan belaka. Alloh Ta’ala berfirman :

فَإِنَّهَا لَا تَعْمَى الْأَبْصَارُ وَلَكِنْ تَعْمَى الْقُلُوبُ الَّتِي فِي الصُّدُورِ

”Karena Sesungguhnya bukanlah mata itu yang buta, tetapi yang buta, ialah hati yang di dalam dada.” (QS al-Hajj : 46).

Inilah keburukan-keburukan yang diperpegangi oleh ’Abdul Majid ar-Raimi, yang tidaklah disebutkan di sini melainkan hanya sedikit dari (kesalahan-kesalahan)-nya yang berlimpah. Barangsiapa yang mengingkan tambahan pengetahuan tentang orang ini, maka silakan baca buku Tanbiih al-Afaadhil ’ala Talbiisaat Ahlil Baathil karya saudara kami, Abu Hummam ash-Shumi’i al-Baidhoni, yang menerangkan akan kebatilan penamaan kasetnya dengan judul Ar-Ruju’ ila Fahmis Salaf.

Catatan Kaki :

1 Dialihbahasakan oleh Abu Salma dari Irsyadul Bariyah ila Syar’iyyatil Intisaabi lis Salafiyyah wa Dahdhu asy-Syubahil Bid’iyyah karya Syaikh Abu ‘Abdis Salam Hasan bin Qosim al-Husaini ar-Raimi as-Salafi, taqdim oleh al-‘Allamah Muqbil bin Hadi rahimahullahu, pasal ke-8, Intisaabu al-Firoq al-Mubtadi’ah lis Salafiyyah Da’awa Kholiyah minad Dalil, hal. 60-68, Cet. I, 1421/2000 Darul Atsar, Shan’a, Yaman.

2 Diriwayatkan oleh Bukhari, kitab tafsir, bab Innad Diina Yasytaruu bi Ahdillahi wa Aymanihim Tsamanan Qoliilan (VIII/213) dan Muslim, kitab al-Aqdhiyah, bab al-Yamin ‘alal Mudda’a ‘alaihi (III/133).

3 Sunan at-Turmudzi, kitab al-Ahkam, bab Ma Ja’a fi annal Bayyinah ‘alal Mudda’iy (III/6626) dan dishahihkan oleh al-Albani di dalam Shahih at-Turmudzi (II/37-38).

* yaitu hadits muttafaq ’alaihi.

4 Syarh Nawawi terhadap (Shahih) Muslim (XII/3).

3 Majmu’atur Rosa`il hal. 33, cet. Dar asy-Syihab.

6 Karya Syaikh ‘Utsman ‘Abdus Salam Nuh, pent.

7 Karya Muhammad bin Saif al-‘Ajmi, pent.

8 Karya al-‘Allamah DR. Rabi’ bin Hadi al-Madkholi, telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Darul Falah, pent.

9 Karya al-‘Allamah DR. Rabi’ bin Hadi al-Madkholi, telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Darul Falah pent.

10 Karya al-‘Allamah DR. Rabi’ bin Hadi al-Madkholi, pent.

11 Karya Syaikh ‘Abdullah ad-Duwaisy, telah diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia oleh Penerbit Darul Qolam, pent.

12 Karya Syaikh Abu Ibrahim bin Sulthan al-Adnani

13 Dikutip dari ath-Thoriq ilal Jama’atil Umm karya Utsman ’Abdus Salam Nuh, hal. 10. Dan mengenai ucapan ini sendiri lihat Majmu’atur Rosa`il karya Hasan al-Banna hal. 23-24.

14 Majmu’ al-Fatawa – penghimpun asy-Syuwai’ir (III/83).

13 Al-Bayan hal. 206.

16 Hukmul Intimaa` hal.149.

17 Yaitu Abu Bakr, ‘Umar dan ‘Utsman ridhwanullah ’alayhim ajma’in, pent.

18 Yang dimaksud oleh Syaikh adalah kelompok Syiah yang membinasakan, pent.

19 Al-Washooya minal Kitaabi was Sunnah (al-Majmu’ah ar-Robi’ah) hal. 67.

20 Al-Ikhwanul Muslimun Ahdaats Shona’at at-Taarikh karya Mahmud ‘Abdul Halim (I/409).

21 Majmu’ al-Fatawa (IV/43).

22 Melalui perantaraan Da’watu al-Ikhwan al-Muslimin fi Miizanil Islaam, hal. 161.

23 Tafwidh adalah pemahaman di dalam tauhid Asma` wa Shifat, yang menyerahkan dan tidak menetapkan makna Shifat kepada maknanya yang hakiki yang telah maklum. Aqidah ini menyelisihi aqidah ahlus sunnah yang menetapkan makna shifat namun mentafwidh (menyerahkan) hakikat shifat. Pent.

24 Majmu’atur Rosa`il (Aqo`id) hal. 33.

23 Dar`u Ta’aarudhil Aqli wan Naqli (I/203).

26 Syarhul Aqidah al-Wasithiyah hal. 21-22.

27 Majmu’ Fataawa wa Maqoolaat Mutanawwi’aih (III/33) dihimpun oleh asy-Syuwai’ir.

28 Syarhul Aqidah al-Wasithiyah (I/92-93)

29 Ibid (I/39)

30 Ia adalah salah seorang du’at sururi di Shan’a Yaman.

31 Maksudnya Jama’ah Takfir yang mengatasnamakan aktivitas tadmir dan tafjir (perusakan dan pengeboman) dengan nama jihad. Karena salafiyun tidak mengingkari jihad sebagaimana tuduhan dusta yang dialamatkan oleh hizbiyun takfiriyun. Salafiyun menetapkan jihad syar’i namun menolak aktivitas perusakan dan pengahancuran yang diatasnamakan jihad, pent.

32 Aqidatus Salaf Ashhabul Hadits hal. 123.

33 Syarh Ushul I’tiqod Ahlis Sunnah karya al-Laalika`i (I/179).

34 Syarh Aqidah ath-Thohawiyah hal. 468.

http://forum.assunnah.me/viewtopic.php?f=153&t=28

PERKARA KEIMANAN YANG GLOBAL DARI POKOK-POKOK AQIDAH SALAFIYYAH

Filed under: Manhaj — abuzahraraiqa @ 7:49 am

Penyusun :
Syaikh Husain bin Audah al-Awaisyah

Syaikh Muhammad bin Musa Alu Nashr

Syaikh Salim bin Ied al-Hilaaly

Syaikh Ali bin Hasan al-Halaby al-Atsary

Syaikh Masyhur bin Hasan Alu Salman

Diperiksa dan Disepakati oleh :
Sejumlah Ulama dan Penuntut Ilmu

Diterbitkan oleh :

Markaz Imam Albany

Divisi Pengajaran Manhaj dan Riset Ilmiah

Amman – Yordania

1421 H./2000 M.

Dialihbahasakan oleh :

Abu Salma bin Burhan al-Atsary

Dikoreksi oleh :

Ust. Abu ‘Athiyyah, Lc., M.Ag.

PENDAHULUAN

Dengan Nama Allah yang Maha Pengasih lagi Maha Penyayang

Segala Puji hanyalah milik Allah pemelihara semesta alam, Sholawat serta Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada utusan termulia, keluarga beliau dan para sahabat seluruhnya.

Berikut ini adalah risalah yang ringkas, ilmiah dan cakupannya luas, yang menghimpun pokok-pokok Aqidah tentang perkara keimanan dan yang berkaitan dengannya, dimana banyak sekali perbincangan dan perdebatan di dalamnya, yang mana hal ini terkadang menyebabkan munculnya sikap saling menfitnah, menghujat, mencela dan menghancurkan…

Kami selaku penuntut ilmu, memandang perlu menulis pokok-pokok ilmiah yang sederhana berkaitan dengan perkara ini, menurut kaidah Ahlus Sunnah wal Jama’ah dan menurut pokok manhaj Salaf Ahlu Hadits dan Ahlu Atsar, dengan keinginan yang kuat untuk mempersatukan kalimat, sebagai maslahat terhadap jama’ah, dalam rangka menerangkan al-Haq dan menjelaskan kebenaran, sebagai petunjuk bagi pencari kebenaran dan menumpas para pendusta.

Kami telah menyodorkan risalah ini untuk diperiksa oleh sejumlah ulama, para penuntut ilmu dan para du’at terbaik di seluruh dunia, dengan mengharapkan kritikan-kritikan dan masukan-masukan yang membangun. Merekapun sudi membaca dan mengoreksinya, dengan Fadhilah (Karunia) dan Taufiq Allah, kami memetik manfaat dari pengarahan mereka. Diantara mereka tersebut adalah :

– Fadhilatus Syaikh Sa’ad al-Hushain

– Fadhilatul Ustadz Prof. DR. Syaikh Rabi’ bin Hadi al-Madkholy

– Fadhilatus Syaikh Ali bin Hamd al-Khasyaan

– Fadhilatus Syaikh DR. Husain Alu Syaikh

– Fadhilatus Syaikh Ahmad bin Yahya an-Najmy

– Fadhilatus Syaikh DR. Muhammad al-Maghrawy

– Fadhilatus Syaikh DR. Wasiyullah Abbad

– Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Umar Bazmul

– Fadhilatus Syaikh DR. Khalid al-Anbary

– Fadhilatus Syaikh Usamah bin Abdul Lathif al-Qushy

– Fadhilatus Syaikh Abul Hasan al-Ma’riby

– Fadhilatus Syaikh Muhammad bin Hadi al-Madkholy

– Fadhilatus Syaikh ‘Abdus Salam bin Barjas Alu Abdil Karim (Rahimahullahu, Pent.)

– Fadhilatus Syaikh Husain ‘Asyasy

– Fadhilatus Syaikh Mahmud ‘Athiyyah

Semoga Allah mereka semua membalas dengan kebaikan.

Karena itu pula, kami juga memutuskan untuk menyodorkan risalah ini kepada Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh -Nafa’allahu bihi-, beliau adalah seorang Mufti Umum, Ketua Lembaga Ulama Besar (Hai`ah Kibaril Ulama’) dan Komite Tetap Bidang Fatwa (Lajnah Da`imah lil Iftaa’) serta Ketua Umum Bidang Penelitian Ilmiah dan Fatwa (Idarah al-Buhuts al-Ilmiyyah wal Ifta’).

Risalah ini telah dikirim via surat pos resmi melalui perantara Fadhilatus Syaikh Sa’ad al-Hushain -Hafidhahullahu-, beliau adalah seorang Penasehat Agama Arab Saudi di Yordania. Kami telah menunggu hingga hampir 2 bulan dengan harapan beliau membalas surat yang kami kirimkan…

Saat kunjungan terakhir al-Akh Ali bin Hasan bin Abdil Hamid al-Halaby al-Atsary ke negeri haramain, beliau sempat bertemu dengan Samahatus Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh -nafa’allahu bihi- dan menanyakan kembali tentang kitab (risalah yang telah kami kirim), dan beliau memberitahukan bahwa beliau belum menerimanya.

Maka, oleh karena itulah, kami berkewajiban menyebarkan risalah yang sederhana ini, untuk menerangkan kepada mereka baik yang jauh maupun dekat, bahwa kami berada di atas Aqidah Sunniyah Shahihah dan Manhaj Salafi yang Sharih (terang) semenjak kurang lebih 3 dekade ini, yang kami pelajari dari para masyaikh yang mulia dan tercinta, Abu Abdurrahman Muhammad Nashirudin al-Albany -rahimahullahu-, Abu Abdillah Abdul Aziz bin Baz -rahimahullahu-, dan Abu Abdillah Muhammad bin Sholih al-‘Utsaimin -hafidhahullahu wa ‘aafahullahu- (rahimahullahu, pent.)

Syarh (Penjelasan) dari perkara-perkara yang kami sebutkan ini secara terperinci beserta menyebutkan dalil-dalilnya dan mengkaitkannya dengan ucapan para Imam Salafus Shalih, memerlukan pemaparan dan penjelasan, namun bukan tempatnya di sini sekarang, semoga akan dapat dilakukan di masa mendatang. Kami memohon kepada Allah untuk menerima amal kami yang sedikit ini. Wallahu waliyyut taufiq.

*****************

LAMPIRAN

Surat kepada Samahatus Syaikh Abdul Aziz Alu Syaikh

Segala puji hanya milik Allah, Shalawat serta Salam semoga senantiasa tercurahkan kepada Rasulullah, keluarganya, sahabat-sahabatnya dan siapa saja yang mencintainya.

Kepada Samahatu al-Allamah al-Jalil asy-Syaikh Abdul Aziz bin Abdillah Alu Syaikh -nafa’allahu bihi-

Assalamu’alaikum warahmatullahi wabarokatuh

Amma Ba’du :

Sesungguhnya kami mengirimkan kepada yang mulia -ayyadakumullahu (Semoga Allah memperkokoh Anda)- risalah yang sederhana ini, berisi perkara keimanan yang mengandung kaidah-kaidah Aqidah Salafus Shalih yang terang dan jelas, dengan keinginan kuat untuk senantiasa memegang kebenaran dan termasuk ahli kebenaran. Sembari mengharapkan petunjuk dari pendapat dan faidah dari Anda serta menunggu kritikan dan pengarahan Anda.

Kami memohon kepada Allah Ta’ala taufiq, kelurusan, huda dan petunjuk bagi kami dan Anda.

Semoga Shawalat senantiasa tercurahkan kepada Nabi kita Muhammad, keluarga dan seluruh sahabatnya.

Penulis : Husain bin Audah al-Awaisyah, Muhammad bin Musa Alu Nashr, Salim bin Ied al-Hilaly, Ali bin Hasan al-Halaby al-Atsary dan Masyhur bin Hasan Alu Salman.

28 Jumadil Ula 1421 H.

*****************

PERKARA-PERKARA KEIMANAN YANG GLOBAL
DARI POKOK-POKOK AQIDAH SALAFIYYAH

1. Keimanan

2. Kekufuran

3. Sholat

4. Berhukum dengan hukum Allah

5. Wala’ (Loyalitas) dan Baro’ (Berlepas Diri)

6. Murji’ah

7. Khowarij

8. Jihad fi Sabilillah

*****************

Pasal 1 : Keimanan

1. Iman adalah keyakinan dalam hati, ucapan dengan lisan dan perbuatan dengan anggota tubuh

2. Amal perbuatan dengan segala macamnya, baik amalan hati maupun amalan anggota tubuh termasuk hakikat keimanan. Kami tidak mengeluarkan perbuatan, baik besar maupun kecil, dari yang namanya keimanan.

3. Bukanlah termasuk ucapan Ahlus Sunnah yang menyatakan bahwa Iman adalah pembenaran hati saja, atau pembenaran dengan ucapan lisan saja, tanpa perbuatan anggota badan. Barangsiapa yang berkata demikian maka ia telah sesat! Dan inilah dia madzhabnya Murji’ah yang buruk!!!

4. Iman itu bercabang-cabang dan bertingkat-tingkat. Diantaranya jika ditinggalkan dapat menjadikan kafir, ada pula yang menyebabkannya berdosa, baik dosa besar maupun kecil, dan ada pula yang jika ditinggalkan akan kehilangan ganjaran dan pahala yang berlipat.

5. Iman itu akan bertambah dengan ketaatan hingga dapat mencapai kesempurnaannya dan akan berkurang dengan kemaksiatan hingga bisa hilang sama sekali, tak tersisa sedikitpun.

6. Yang benar dalam perkara iman dan amal perbuatan serta hubungannya dengan lainnya, ditinjau dari sisi ketetapannya, berkurang maupun bertambahnya, keberadaan maupun ketiadaannya, tercakup dalam ucapan Syaikhul Islam -rahimahullahu- yang menyatakan, “Pokok keimanan itu di dalam hati, dan Iman itu adalah ucapan hati dan amalannya yang ditetapkan dengan pembenaran, kecintaan dan ketundukan. Keimanan yang bersemayam di dalam hati harus menampakkan konsekuensi dan kebutuhannya terhadap anggota tubuh. Jika tidak melaksanakan konsekuensi dan kebutuhannya, menunjukkan ketiadaan atau kelemahan iman. Oleh karena itu, amalan lahir merupakan konsekuensi dan kebutuhan iman yang menunjukkan pembenaran terhadap apa yang ada di dalam hati, sebagai dalil (petunjuk) dan syahid (saksi) atasnya. Amalan lahir juga merupakan cabang dari kumpulan keimanan yang mutlak serta merupakan bagian darinya. Akan tetapi yang bersemayam di dalam hatilah yang merupakan pokok dari amal perbuatan anggota tubuh.”

Kami mengatakan : Ketiadaan iman yang mutlak, yaitu kesempurnaan iman, tidaklah mengharuskan penafian kemutlakan iman, yaitu pokok keimanan. Sebagaimana telah ditetapkan oleh Syaikhul Islam dalam beberapa tempat (dari karangan-karangan beliau, pent.).

7. Perbuatan anggota tubuh, selain sholat -yang insya Allah akan datang perinciannya nanti- bisa jadi termasuk kesempurnaan iman yang wajib dan bisa jadi mustahab, menurut kadarnya, sebagaimana yang telah dijelaskan oleh Syaikhul Islam. Maka wajibnya (amalan lahir) adalah wajib dan mustahabnya adalah mustahab.

8. Adapun istilah Syarth Kamal al-Iman (syarat kesempurnaan iman) yang sering diperbincangkan dewasa ini, adalah istilah muhdats (baru) yang tidak berasal dari al-Qur’an dan as-Sunnah, tidak pula dari ucapan Salafus Shalih dari tiga kurun pertama yang terbaik. Oleh karena itu, sesungguhnya penggunaan istilah ini sesuai dengan keterangan sebelumnya yang terperinci, merupakan suatu hal yang tidak dapat diperdebatkan lagi, beserta peringatan bahwa penyebutan kata syarat di dalamnya, menurut definisi bahasa bermakna tingkatan kewajiban tertinggi, bukan menurut definisi istilah yang berkonsekuensi keluar dari hakikat sebenarnya. Adapun pemahaman istilah ini dengan pengertian ‘kesempurnaan mustahab’ atau ‘mengeluarkan amalan dari yang namanya keimanan’ atau ‘orang yang bermaksiat memiliki keimanan yang sempurna’ sebagaimana pemahaman murji’ah atau orang-orang yang terpengaruh dengannya, maka semua pengertian ini adalah sesat dan bathil.

*****************

Pasal 2 : Kekufuran

1. Takfir (Pengkafiran) adalah hukum syar’i yang harus dikembalikan kepada Allah Ta’ala dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam.

2. Barangsiapa yang keislamannya telah tetap dengan pasti, maka keislamannya takkan hilang darinya melainkan dengan kepastian pula.

3. Tidak setiap ucapan maupun perbuatan yang disifatkan oleh nash sebagai kekufuran serta merta menunjukkan kekufuran besar yang mengeluarkan dari agama, karena kekufuran itu ada dua, yaitu kufur kecil dan kufur besar. Maka, hukum terhadap ucapan dan perbuatan (yang disifatkan sebagai kekafiran ini) sesungguhnya hanyalah menurut koridor metode para ulama Ahlus Sunnah dan keputusan mereka.

4. Tidak boleh menjatuhkan hukum kafir terhadap setiap muslim kecuali yang kekufurannya ditunjukkan oleh al-Qur’an dan as-Sunnah dengan dalil yang terang, nyata dan jelas. Tidak cukup hanya dengan kesamaran (syubuhat) dan dugaan semata.

5. Terkadang terdapat di dalam al-Qur’an dan as-Sunnah tentang ucapan, perbuatan atau keyakinan yang difahami sebagai kekufuran, namun tidak boleh seseorang dikafirkan secara spesifik (mu’ayan) kecuali jika telah ditegakkan hujjah atasnya dengan memenuhi syarat-syarat : ilmu, maksud dan pilihan, serta menghilangkan penghalang-penghalangnya, yaitu lawan dan kebalikan dari hal ini.

6. Kekufuran itu bermacam-macam : ada kufur juhud (pengingkaran), takdzib (pendustaan), iba’ (penolakan), syak (keraguan), nifaq (kemunafikan), i’radh (berpaling), istihzaa’ (penghinaan) dan istihlal (penghalalan), sebagaimana disebutkan oleh para Imam Ahli Ilmu, Syaikhul Islam dan muridnya Ibnul Qoyyim al-Jauziyah dan selainnya dari para Imam Sunnah -rahimahumullahu-

7. Termasuk kufur amalan dan ucapan yang mengeluarkan dari agama secara dzatnya, yang tidak disyaratkan di dalamnya penghalalan hati, adalah perkara-perkara yang menunjukkan lawan dari keimanan ditinjau dari segala sisi, seperti mencela Allah Ta’ala, menghina Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam, sujud kepada berhala, meletakkan mushaf di tempat-tempat najis, dan amalan-amalan yang serupa.

Menjatuhkan hukum kafir ini kepada perseorangan secara spesifik adalah sebagaimana (menjatuhkan hukum kafir) pada amalan kafir lainnya, yaitu tidaklah serta merta dikafirkan kecuali syarat-syaratnya dipenuhi.

8. Kami berpendapat sebagaimana pendapatnya Ahlus Sunnah, bahwa amalan kufur itu mengkafirkan pelakunya dikarenakan keadaannya yang menunjukkan kekufuran bathinnya. Kami tidak berpendapat sebagaimana ahlul bid’ah yang mengatakan bahwa amal kufur itu tidak mengkafirkan, melainkan sebagai petunjuk kekafiran. Perbedaan keduanya cukup jelas.

9. Sebagaimana ketaatan merupakan cabang keimanan, maka sesungguhnya kemaksiatan itu merupakan cabang kekufuran. Semuanya menurut tingkatannya.

10. Ahlus Sunnah tidaklah mengkafirkan seorangpun dari ahli kiblat dikarenakan dosa besarnya, namun mereka mengkhawatirkan akan terealisasinya ayat-ayat ancaman bagi mereka (pelaku dosa besar) tanpa beranggapan mereka kekal di dalam neraka. Bahkan Ahlus Sunnah berpendapat mereka akan keluar dengan syafaat para pemberi syafaat dan dengan Rahmat Allah Rabb semesta alam, selama mereka masih bertauhid. Pengkafiran terhadap para pelaku dosa besar adalah madzhabnya khowarij yang buruk.

*****************

Pasal 3 : Sholat

1. Sholat merupakan Rukun Islam berupa amalan yang paling penting dan besar. Bahkan sholat merupakan pilarnya dan simbol keimanan serta perilaku badan/fisik yang paling agung.

2. Meninggalkan sholat karena juhud (mengingkari kewajibannya) adalah kafir mengeluarkan dari agama. Kami tidak mengetahui adanya perselisihan tentang hal ini di kalangan ulama Ahlus Sunnah.

Dan yang serupa dengan perkara ini -yaitu murtad dan kafir- adalah orang yang hendak dipenggal kepalanya dengan pedang (dieksekusi), ia lebih memilih mati ketimbang sholat.

3. Perselisihan yang terjadi di tengah Ahli Sunnah -pengikut manhaj salaf- berkenaan tentanng orang yang meninggalkan sholat karena malas tanpa penyangkalan dan pengingkaran (kewajibannya). Sebagaimana dinukil lebih dari seorang ulama semacam Imam Malik, Imam Syafi’i dan menurut riwayat yang masyhur dari Imam Ahmad.

4. Barang siapa yang mengkafirkan orang yang meninggalkan sholat secara mutlak, tidak boleh baginya menuduh orang yang berbeda dengannya sebagai murji’ah.

Dan barang siapa yang tidak mengkafirkan orang yang meninggalkan sholat karena malas, tidak sepatutnya melempar tuduhan kepada orang yang berbeda dengannya sebagai khowarij.

5. Meninggalkan sholat -bagi fihak yang mengkafirkannya di dunia- termasuk kufur besar yang menyeret pelakunya sebagai kafir pula di akhirat. Adapun pengkafiran orang yang meninggalkan sholat sebagai kufur akbar di dunia setelah memenuhi syarat-syaratnya dan menghilangkan penghalang kekafiran, dan menjadikan orang yang meninggalkan sholat pada waktu yang bersamaan ‘di bawah kekuasaan Allah di akhirat’, jika orang yang meninggalkan sholat itu ikhlas dengan ucapannya ‘Laa ilaaha illallah’ di dunia, maka pendapat ini adalah pendapat yang mengada-ada (bid’ah), tidaklah termasuk dari pendapatnya Ahlus Sunnah sedikitpun. Karena para ulama yang merajihkan (menguatkan) pengkafiran bagi orang yang meninggalkan sholat, mereka meyakini bahwa orang yang meninggalkan sholat di akhirat nanti kekal di dalam neraka jahannam. Mereka berargumentasi bahwa ‘orang yang tidak sholat tidak memiliki iman sedikitpun di dalam hatinya’ dan argumentasi ‘seandainya dia jujur dengan ucapan laa ilaaha illallah dan ikhlas, niscaya ia takkan meninggalkan sholat’.

6. Oleh karena itu, perselisihan tentang menghukumi orang yang meninggalkan sholat menurut sisi kebenarannya adalah perselisihan yang mu’tabar (dikenal) di tengah-tengah Ahlus Sunnah yang tidak merusak ukhuwah imaniyah. sebagaimana hal ini terjadi di zaman salaf yang pertama dari para imam yang ummat bersepakat menerima mereka dan mempersaksikan keutamaan mereka, seperti Imam Malik, Imam Syafi’i dan selainnya. Perselisihan Ilmiyah Sunniyah ini terus berlangsung hingga saat ini, sebagaiman terjadi pada dua Imam yang mulia, yaitu Imam Albany dan Imam Ibnu Baz -rahimahumallahu- dan selain mereka.

7. Tidak ada halangan syar’i untuk tarjih Ilmiah (meneliti yang lebih kuat) dan penelitian Fiqhiyyah, untuk mendukung dan menyokong salah satu dari pendapat ini tanpa mendukung pendapat lainnya, dalam lingkaran Ahlus Sunnah walau dengan perbedaan tarjih dan hakikat ucapan yang beragam, dengan tetap memelihara manhaj dalam meneliti dan etika dalam berselisih.

*****************

Pasal 4 : Berhukum dengan hukum Allah

1. Berhukum dengan hukum Allah adalah wajib ‘ain bagi setiap muslim, baik secara individu maupun masyarakat, sebagai pemimpin maupun rakyat, tiap-tiap mereka adalah pemimpin dan tiap-tiap mereka bertanggung jawab terhadap yang dipimpinnya.

2. Berhukum dengan hukum Allah adalah sempurna, komprehensif dan lengkap. Dimana hukum Allah mencakup seluruh urusan ummat baik aqidah, dakwah, pendidikan, moralitas, ekonomi, politik, sosial, budaya dan lain-lain.

3. Meninggalkan berhukum dengan hukum Allah termasuk sebab-sebab bencana, perpecahan, kehinaan dan kemunduran yang saat ini tengah menyelimuti ummat Islam baik secara kemasyarakatan Individu.

4. Hukum itu ada tiga macam, yaitu :

– Hukum Munazzal (yang diturunkan), yaitu syariat Allah di dalam kitab-Nya dan sunnah nabi-Nya. Semuanya adalah kebenaran yang pasti.

– Hukum Mu’awwal (yang ditakwil), yaitu ijtihad para Imam Mujtahid yang bisa benar dan salah. Akan mendapatkan satu ganjaran (jika salah) dan dua ganjaran (jika benar).

– Hukum Mubaddal (yang diganti), yaitu hukum dengan selain hukum Allah, dimana pelakunya bisa jadi kafir, dhalim atau fasiq. Sebagaimana dinyatakan oleh Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah dan muridnya Imam Ibnul Qoyim al-Jauziyah.

5. Orang yang berhukum dengan selain hukum Allah dilihat keadaannya:

Jika ia meninggalkan hukum Allah dengan meyakini kehalalannya atau menganggapnya pilihan (yang boleh diterima boleh tidak, pent.) atau beranggapan hukum Allah tidak relevan untuk mengatur urusan manusia atau berpendapat hukum selain hukum Allah lebih layak untuk manusia, maka dia telah kafir keluar dari agama setelah terpenuhinya syarat dan hilangnya penghalang, menurut fatwa para ulama yang mendalam pemahaman agamanya.

Jika ia meninggalkan berhukum dengan hukum Allah karena mengikuti hawa nafsu atau demi kepentingan (duniawinya), atau karena takut atau takwil, dengan tetap berikrar dan meyakini kesalahan dan penyelewengannya, maka ia jatuh ke dalam kufur kecil yang dosanya jauh lebih besar dari minum khamr. Akan tetapi, kekufurannya tidak sampai mengkafirkannya (kufrun duna kufrin) sebagaimana telah ditetapkan oleh para Imam dan Ulama salaf.

6. Berusaha untuk menegakkan syariat Allah di negeri yang tidak berhukum dengan hukum Allah, beramal untuk melanggengkan kehidupan Islam di atas manhaj kenabian yang akan menghimpun kaum muslimin dan mempersatukan kalimat mereka, adalah kewajiban syar’i yang terkandung di dalam manhaj Robbani dalam mengadakan perubahan, “Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum hingga kaum itu sendiri yang mengubah keadaan mereka.”, tanpa berpartai-partai (tahazub) dan fanatisme yang jelek, dengan tetap berpegang pada Kitabullah dan Sunnah Rasulullah berdasarkan pemahaman Salaful Ummah dari generasi Sahabat dan Tabi’in, dengan saling tolong menolong dalam kebajikan dan ketakwaan, saling menasehati dalam kebenaran dan kesabaran, dan memurnikan (tashfiyah) segala kerusakan yang menimpa aqidah kaum muslimin serta mendidik (tarbiyah) mereka di atas manhaj yang benar dan terang.

*****************

Pasal 5 : Wala’ (Loyalitas) dan Baro’ (Berlepas Diri)

1. Kami memandang bahwa wala’ di tengah-tengah kaum muslimin -dan wala’ terhadap mereka- mengandung ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dan termasuk manhaj salaf yang dipercaya serta jalannya para ulama Robbaniyun. Kami juga memandang bahwa baro’ dari setiap orang yang menyelisihi syariat berdasarkan tingkat penyelewengannya baik besar maupun kecil, baik dalam masalah aqidah mapun hukum, dan sunnah atau bid’ah.

2. Tidak boleh khuruj/keluar dari ketaatan (memberontak) dari penguasa kaum muslimin, tidak boleh pula menentang dan melakukan revolusi terhadap mereka, kecuali hingga kita melihatnya melakukan kekufuran yang nyata dan kita memiliki bukti yang nyata dari Allah atas kekufurannya.

Jika hal demikian benar-benar terjadi -yakni penguasa melakukan kekufuran yang nyata- maka sesungguhnya justifikasi dan penentuannya dikembalikan kepada orang yang mendalam ilmunya dari para ulama kita yang terpercaya kekokohan agamanya, dimana mereka lebih bisa melihat tarjih antara masalahat dan madharatnya, yang akan menghilangkan kemunkaran tidak malah menambahnya, tanpa dibakar semangat yang menggelora.

*****************

Pasal 6 : Murji’ah

1. Murji’ah ada kelompok yang sesat, madzhabnya jelek dan bathil -tidak berada di atas manhaj Sunnah dan Ahlus Sunnah-. Akan tetapi kami tidak mengeluarkan mereka dari agama sebagaimana dinyatakan oleh Imam Ahmad dan dinukil Syaikhul Islam dari beliau sebagai ketetapan beliau di sejumlah tempat.

2. Murji’ah ada tiga jenis :

a. Jahmiyah Murji’ah yang berpendapat bahwa Iman sebatas pengetahuan (ma’rifat) belaka. Sebagian Imam Salaf mengkafirkan mereka.

b. Karramiyyah yang membatasi keimanan hanya dengan ucapan lisan saja tanpa perlu diyakini dalam hati.

c. Murji’ah Fuqoha’ yang berpendapat bahwa iman itu keyakinan dengan hati dan ucapan dengan lisan, namun mereka mengeluarkan amalan dari yang namanya keimanan.

Mereka semua di atas kesesatan walaupun tingkat kesesatannya berbeda-beda, sebagaimana yang telah diperinci oleh Syaikhul Islam -rahimahullahu-.

3. Termasuk pendapat jelek mereka yang terbentuk dari sebelumnya dan dari beragamnya kelompok-kelompok mereka, bahwasanya iman itu tidak bertambah tidak pula berkurang. Barang siapa yang mengatakan ‘sesungguhnya iman itu bertambah dan berkurang, bertambah dengan ketaatan dan berkurang dengan kemaksiatan. Iman itu berupa ucapan, amalan dan keyakinan’, maka dia telah berlepas diri dari pemikiran murji’ah seluruhnya, dari awal sampai akhir, sebagaimana ucapan Imam Ahmad bin Hanbal; dan Imam Barbahari serta selain mereka.

4. Pelaku kemaksiatan baik kecil maupun besar masih termasuk ummat Islam (Ahlu Millah), dan mereka berada di bawah kehendak Allah hukuman dan siksanya, sebagaimana firman Allah Ta’ala, “Sesungguhnya Allah tidak mengampuni kesyirikan namun ia mengampuni selain kesyirikan siapa saja yang dikehendaki-Nya.”

*****************

Pasal 7 : Khowarij

1. Khowarij adalah kelompok yang sesat dan madzhabnya jelek lagi bathil. Mereka keluar dari manhaj Ahlus Sunnah wal Jama’ah walaupun kami tidak beranggapan akan kekafiran mereka. Telah diriwayatkan sebagian ulama salaf bahwa ada yang mengkafirkan mereka.

2. Mereka adalah kebalikan Murji’ah dari sisi hukum. Namun keduanya berangkat dari pokok kesesatan yang sama, yaitu bahwa Iman seluruhnya tidak bercabang-cabang. Dari pokok yang satu inilah mereka menyimpang dan berpecah belah, oleh karena itu :

Menurut khowarij, sesungguhnya berkurangnya iman adalah kekufuran, dimana kemaksiatan akan menghilangkan dan membatalkan keimanan seluruhnya. Lain halnya dengan murji’ah, yang menjadikan keberadaan setiap maksiat tidak mempengaruhi berkurangnya keimanan, seperti setiap ketaatan tidak mempengaruhi pertambahan iman. Dari sinilah mereka mengatakan bahwa ‘kemaksiatan tidaklah membahayakan keimanan’.

3. Perincian ilmiah tentang perkara ‘berhukum dengan hukum Allah’ yang telah lewat pembahasannya merupakan metodenya para salaf yang benar dan jalannya Ahlus Sunnah yang haq. Barangsiapa yang menambah-nambahi darinya maka ia telah berlaku ghuluw (ekstrim) dan ifrath (berlebih-lebihan) yang selaras dengan khowarij. Barangsiapa yang mengurangi darinya maka ia berlaku taqshir (mengurangi) dan tafrith (meremehkan) yang selaras dengan murji’ah.

*****************

Pasal 8 : Jihad fi Sabilillah

1. JIhad termasuk syiar Allah yang terpenting dan puncak tertinggi.

2. Kedudukan jihad di dalam agama tetap terpelihara dan dikenal kedudukan dan posisinya, yang tidak didahulukan dari perkara-perkara yang lebih penting darinya dan tidak diakhirkan dari perkara-perkara yang lebih rendah darinya. Jihad akan senantiasa berlangsung hingga hari kiamat.

3. Jihad terbagi menjadi 2 macam :

Pertama : Jihad Fath wa Tholab (ekspansi dan ofensif), yang harus memenuhi persyaratan syar’i sebagai berikut :

a. Imam

b. Negara (daulah)

c. Bendera (royah)

Kedua, Jihad Daf’u (defensif), hukumnya wajib ‘ain bagi seluruh penghuni negeri yang diserang oleh musuh. Jika mereka tidak sanggup, maka penduduk di wilayah sekitarnya dari ahli tsughur (penjaga perbatasan) harus menolong mereka, demikian seterusnya.

4. Jihad syar’i memiliki persiapan (‘idad) syar’i yang harus dipenuhi. Ada dua macam persiapan, yaitu :

Pertama : Persiapan dengan pembinaan keimanan ummat, dengan cara menegakkan hakikat peribadatan hanya kepada Allah Subhanahu wa Ta’ala semata, membina jiwa mereka dengan kitabullah, mensucikan mereka dengan sunnah nabinya dan menolong agama Allah dan syariat-syariat-Nya. ‘Allah benar-benar akan menolong hamba-Nya yang menolong agama-Nya.’

Kedua : Persiapan fisik, yaitu mempersiapkan sejumlah perlengkapan dan alat-alat perang untuk melawan dan memerangi musuh-musuh Allah. ‘Dan persiapkanlah bagi mereka apa-apa yang kamu sanggupi, dari kekuatan dan kuda yang ditambat yang akan menggentarkan musuh Allah dan musuh-musuh kalian.’

*****************

Penutup

-Semoga Allah menganugerahkan kebaikan dan tambahannya-

Inilah penutup dari apa yang telah Allah Jalla wa ‘Ala tetapkan pada kami dalam penulisan perkara aqidah ini, yang mengkaitkan dan menyelaraskannya dengan timbangan manhaj salaf dan metode Ahlus Sunnah dengan format yang ringkas dan sederhana.

Sembari memohon kepada Allah Tabaroka wa Ta’ala Taufiq-Nya kepada kami dan kepada seluruh saudara-saudara kami, dengan mengharap agar Ia tetap mengatur urusan kami supaya tetap lurus, agar Ia memperkuat penolong-penolong agama-Nya dan menghinakan musuh-musuh-Nya, agar Ia menumpas ahlu ahwa’ dan bi’dah, agar meluruskan dari apa-apa yang telah kami tulis, dan agar supaya Ia menganugerahkan keikhlasan dalam beramal dan berucap.

“Sesungguhnya aku hanya menghendaki perbaikan semampu aku bisa, dan tidak ada taufiq melainkan dari Allah, kepada-Nya aku bertawakal dan kepadanya aku kembali.”

Semoga Sholawat, Salam dan Barokah senantiasa tercurahkan kepada nabi kita Muhammad, terhadap keluarga beliau dan seluruh sahabat-sahabat beliau.

Penutup do’a kami adalah, Segala puji hanyalah milik Allah Rabb semesta alam.

*****************

http://forum.assunnah.me/viewtopic.php?f=17&t=51

Definisi Ibadah Yang Benar

Filed under: Fiqh,Tauhid — abuzahraraiqa @ 7:30 am

Oleh Syaikh Dr. Sholeh bin Fauzan al Fauzan

Sesungguhnya ibadah yang disyariatkan Allah dibangun diatas dasar-dasar dan asas-asas yang kuat dan kokoh, ringkasnya sebagai berikut:

PERTAMA Sesungguhnya ibadah itu adalah Taufiqiyah (tidak ada tempat bagi rasio/akal di dalamnya ~ paket jadi), bahkan yang berhak membuatnya hanyalah Allah saja, sebagaimana firman-Nya: “Artinya :

Maka beristiqomahlah engkau , sebagimana yang diperintahkan kepadamu dan orang yang bertobat bersamamu dan janganlah engkau melampaui batas.” [Hud :112] ”

Artinya : Dan Kami jadikan kamu berada di atas suatu syariat (peraturan) dari urusan agama ini, maka ikutilah syariat itu dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang tidak mengetahui” [Al Jatsiyah : 18]

Dan Allah berfirman tentang Nabi-nya : ”Artinya : Aku tidak lain hanyalah mengikuti apa yang diwahyukan kepadaku” [Al–Ahqaf : 9]

KEDUA Ibadah itu harus ikhlas , yaitu bersih dari noda-noda syirik, sebagaimana firman-Nya.

“Artinya : Maka barangsiapa yang mengharapkan untuk bertemu dengan Rabb-nya, maka hendaklah dia beramal dengan amalan yang shalih dan tidak menyekutukan (melakukan syirik) dengan seorangpun dalam beribadah kepada Rabb-nya” [Al-Kahfi : 110]

Bila ibadah telah dimasuki oleh syirik walaupun sedikit saja, maka ia (syirik) akan menggugurkan (membatalkan) amalan itu sebagaimana firman-Nya:

“Artinya : Dan janganlah mereka menyekutukan Allah , sungguh akan hapuslah dari mereka apa yang mereka amalkan” [Al-An’am : 88]

“Artinya : Dan sungguh telah diwahyukan kepadamu dan juga kepada orang-orang sebelum kalian;” Jika engkau menyekutukan Allah (berbuat syirik) pasti hilanglah (hapuslah) amalanmu dan engkau menjadi orang-orang yang merugi.”

“Karena itu maka hendaklah Allah saja yang engkau sembah dan hendaknya engkau termasuk orang-orang yang bersyukur” [Az-Zumar : 65-66]

KETIGA Yang menjadi contoh dan panutan dalam ibadah itu haruslah Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam , sebagaimana firman Allah :

“Artinya : Sungguh telah ada bagi kalian pada diri Rasuulullah shalallahu alaihi wa sallam itu suri tauladan yang baik.” [Al Ahzab : 21]

“Artinya : Dan apa yang dibawa oleh Rasul bagi kalian, maka ambillah ia dan apa yang dilarang olehnya kepada kalian , maka tinggalkanlah”[Al Hasyr : 7]

Dan Nabi shalallahu alaihi wa sallam bersabda . “Artinya : Siapa yang mengamalkan suatu amalan yang tidak ada contohnya (dari) urusan kami, maka ia tertolak” [Hadits Riwayat Muslim]

“Artinya : Barangsiapa yang membuat perkara yang baru dalam urusan kami ini (Islam) yang tidak (ada) asal darinya, maka ia tertolak” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

Contoh dalam shalat, haji : “Shalatlah kalian sebagaimana kalian melihat aku shalat” [Hadits Riwayat Bukhari dan Muslim]

“Ambillah oleh kalian cara manasik haji dariku” [Hadits Riwayat Muslim]

Dan banyak lagi dalil-dalil tentang masalah ini.

KEEMPAT Ibadah itu dibatasi dengan waktu-waktu , ukuran-ukuran dan tidak boleh melampauinya , seperti shalat . Allah berfirman :

“Artinya : Sesungguhnya shalat itu adalah suatu kewajiban yang ditentukan waktunya atas orang-orang yang beriman” [An- Nisa :103]

“Artinya : (Musim) haji adalah beberapa bulan yang dimaklumi” [Al-Baqarah :197]

Seperti puasa : “Artinya : (Beberapa hari yang ditentulkan itu ialah ) Bulan Ramadhan , bulan yang di dalamnya diturunkan Al Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda (antara hak dan batil). Karena itu , barang siapa diantara kalian hadir (dinegeri tempat tinggalnya) di bulan itu, maka hendaklah ia berpuasa di bulan itu” [Al-Baqarah :185]

KELIMA Ibadah itu harus didasari oleh rasa mahabbah (cinta) , merendah, takut dan berharap kepada Allah, sebagaimana firman-Nya :

“Artinya : Orang-orang yang mereka seru itu , mereka sendiri mencari jalan kepada Rabb mereka, siapa yang lebih dekat (kepada Allah) dan mengharapkan rahmat-Nya dan takut kepada azab-Nya.”[Al Isra ‘: 57]

Dan Allah berfirman tentang keadaan para Nabi-Nya : “Artinya : Sesungguhnya mereka (para Nabi) sangat bersegera menuju kebaikan dan mereka menyeru kami dalam keadaan senang dan takut dan merekalah orng-orang yang khusyu’ kepada Kami” [Ali Imran : 90]

“Artinya : Katakanlah (wahai Muhammad):”Jika kalian mencintai Allah maka ikutilah aku. Allah akan mengampuni dosa-dosa kalian dan Allah adalah Maha Pengampun dan Penyayang.”Katakanlah (wahai Muhammad) :”taatilah Allah dan taatilah Rasul (Muhammad shalallahu alaihi wa sallam) , maka jika kalian berpaling, maka sesungguhnya Allah tidak suka kepada orang-orang yang kafir.” [Ali-Imran :31-32]

Disini Allah menyebutkan tanda-tanda kecintaan kepada Allah dan buah-buahnya . Termasuk tanda-tandanya adalah mengikuti Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam. Dan mengikuti beliau berarti taat kerpada Allah. Adapun hasil taat kepada Rasulullah shalallahu alaihi wa sallam adalah ; ia mendapatkan kecintaan , pengampunan dosa dan rahmat dari Allah.

KEENAM Sesungguhnya ibadah itu tidak akan berhenti (selesai) dari seorang mukallaf semenjak baligh dan berakal sampai akhirnya dia wafat, sebagimana firmanNya

“Artinya : Dan janganlah kalian semua mati melainkan dalam keadaan sebagai seorang muslim”[Ali-Imran :102] “Artinya : Dan beribadahlah engkau kepada Rabbmu sampai engkau mati” [Al Hijr : 99]

[Disalin dari kitab, Haqiqatuth Tashawwuf wa Mauqifush Shufiyyah min Ushulil Ibadah wad Diin, Edisi Indonesia : Hakikat Tasawwuf, Penulis : Syaikh Dr. Shalih bin Fauzan, Alih Bahasa, Muhammad ‘Ali Ismah, Penerbit : Pustaka As-Salaf , Gumpang RT 02/03 N0. 559 Kertasura Solo 57169 Cetakan I : Rabi’ul Tsani 1419 H / Agustus 1998M]

NIKAH DENGAN NIAT (AKAN) DI TALAQ

Filed under: Fatwa — abuzahraraiqa @ 7:21 am

Majmu Fatawa

س 4: سمعت لك فتوى على أحد الأشرطة بجواز الزواج في بلاد
الغربة، وهو ينوي تركها بعد فترة معينة، لحين انتهاء الدورة أو الابتعاث. فما هو الفرق بين هذا الزواج وزواج المتعة، وماذا لو أنجبت زوجته طفلة، هل يتركها في بلاد الغربة مع أمها المطلقة أرجو الإيضاح؟ ج 4:

نعم لقد صدر فتوى من اللجنة الدائمة وأنا رئيسها بجواز النكاح بنية الطلاق إذا كان ذلك بين العبد وبين ربه، إذا تزوج في بلاد غربة ونيته أنه متى انتهى من دراسته أو من كونه موظفا وما أشبه ذلك أن يطلق فلا بأس بهذا عند جمهور العلماء، وهذه النية تكون بينه وبين الله سبحانه، وليست شرطا. والفرق بينه وبين المتعة: أن نكاح المتعة يكون فيه شرط مدة معلومة كشهر أو شهرين أو سنة أو سنتين ونحو ذلك، فإذا انقضت المدة المذكورة انفسخ النكاح، هذا هو نكاح المتعة الباطل، أما كونه تزوجها على سنة الله ورسوله ولكن في قلبه أنه متى انتهى من البلد سوف يطلقها، فهذا لا يضره وهذه النية قد تتغير وليست معلومة وليست شرطا بل هي بينه وبين الله فلا يضره ذلك، وهذا من أسباب عفته عن الزنى والفواحش، وهذا قول جمهور أهل العلم، حكاه عنهم صاحب المغني موفق الدين ابن قدامة رحمه الله.

—————————————————————————————————–

Pertanyaan: Saya mendengar bahwa anda berfatwa kepada salah seorang polisi bahwa diperbolehkan nikah di negeri rantau (negeri tempat merantau), dimana dia bermaksud untuk mentalak istrinya setelah masa tertentu bila habis masa tugasnya. Apa perbedaan nikah semacam ini dengan nikah mut’ah? Dan bagaimana kalau si wanita melahirkan anak? Apakah anak yang dilahirkan dibiarkan bersama ibunya yang sudah ditalak di negara itu? Saya mohon penjelasanya.

Jawab: benar. Telah keluar fatwa dari “Lajnah Daimah”, di mana saya adalah ketuanya, bahwa dibenarkan nikah dengan niat (akan) talak sebagai urusan hati antara hamba dan Tuhannya. Jika seseorang menikah di negara lain (di rantau) dan niat bahwa kapan saja selesai dari masa belajar atau tugas kerja, atau lainnya, maka hal itu dibenarkan menurut jumhur para ulama. Dan niat talak semacam ini adalah urusan antara dia dan Tuhannya, dan bukan merupakan syarat dari sahnya nikah.

Dan perbedaan antara nikah ini dan nikah mut’ah adalah dalam nikah mut’ah disyaratkan masa tertentu, seperti satu bulan, dua bulan, dan semisalnya. Jika masa tersebut habis, nikah tersebut gugur dengan sendirinya. Inilah nikah mut’ah yang batil itu. Tetapi jika seseorang menikah, di mana dalam hatinya berniat untuk mentalak istrinya bila tugasnya berakhir di negara lain, maka hal ini tidak merusak akad nikah. Niat itu bisa berubah-ubah, tidak pasti, dan bukan merupakan syarat sahnya nikah. Niat semacam ini hanyalah urusan dia dan Tuhannya. Dan cara ini merupakan salah satu sebab terhindarnya dia dari perbuatan zina dan kemungkaran. Inilah pendapat para pakar (ahl al-ilm), yang dikutip oleh penulis Al-Mughni Muwaffaquddin bin Qudamah rahimahullah
Syekh Abdul Aziz bin Abdullah  Bin Baz, Jilid 4, hal 29-30 cetakan Riyadh – Saudi Arabia, Tahun 1411/1990″

Blog at WordPress.com.